Selasa, 15 Juli 2014

Peduli Palestina.....


Assalaamu'alaykum Wr.Wb.
Buat Sahabat2 yang ingin membuktikan kepeduliannya pada Palestina, dapat direalisasikan dengan mendonasikan infaqnya/transfer ke rekening-rekening berikut:




Semoga info2 screen grabs ini bermanfaat ^_~

Sabtu, 19 November 2011

RS Indonesia di Gaza

Setelah berjibaku selama 2,5 tahun, akhirnya pada tanggal 14 Mei 2011, proses pembangunan RS Indonesia (RSI) yang terletak di Bayt Lahiya Gaza Utara pun dimulai. Pelaksanaan pembangunan RS ini dilakukan oleh First Company, salah satu kontraktor papan atas di jalur Gaza. First Company adalah kontraktor yang ditetapkan sebagai pemenang tender oleh Tim Divisi Konstruksi MER-C setelah melalui pemilihan yg ketat.

Bukan hal yg mudah memang utk melakukan pembangunan di Jalur Gaza sebuah wilayah yg terblokade, salah satunya adalah izin yg sulit. Pasca penandatanganan MOU Pembangunan RSI dengan MOH (Ministry of Health) Gaza, pada tgl 23 Januari 2009, Tim MER-C baru bisa masuk kembali ke Gaza sekitar 1,5 tahun setelah itu, tepatnya setelah Insiden Mavi Marmara. Insiden ini membuat perbatasan menjadi agak longgar dan Tim MER-C kembali bisa menginjakkan kaki di wilayah Gaza untuk bisa melanjutkan komitmen program pembangunan RSI.

Menurut Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Ir.Faried Thalib yg saat ini masih berada di perbatasan Rafah menunggu izin utk masuk ke Gaza, total biaya pembangunan RSI di luar pembelian peralatan mencapai 30 milyar. Donasi yg terkumpul dari masyarakat hingga saat ini berjumlah 15 Milyar.

Dukungan dalam bentuk dana dpt disalurkan melalui BSM (Bank Syariah Mandiri), atas nama Medical Emergency Rescue Commitee, No.Rek. 009.0121.773

Selasa, 10 Agustus 2010

Sejenak Menyapa Penghuni Penjara Terbesar di Dunia (6 Jam di Jalur Gaza)...

Catatan Perjalanan Dra Yoyoh Yusroh (Anggota Komisi VIII DPR RI) yang dimuat dalam Majalah Tarbawi



Saat pertama kali mendengar bahwa Komisi I DPR akan berangkat menuju Gaza, Palestina, saya (Dra Yoyoh Yusroh) langsung mengajukan diri untuk ikut. Yang berangkat saat itu ada 20 orang, termasuk Ketua DPR marzuki Alie dan DR Hidayat Nur Wahid. Waktu itu hanya KOmisi I saja yang rencananya akan berangkat, tapi kemudian saya mengajukan diri untuk ikut berangkat ke sana. Meskipun saya bukan dari Komisi I, akan sangat relevan jika saya ikut, karena saya yang berada di Komisi VIII mengurusi tentang anak, perempuan, dan pengungsi. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa ikut. Rombongan tersebut akan menyerahkan bantuan $ 20 juta untuk mendirikan rumah sakit di Gaza.


Terus terang, ada sedikit rasa takut, karena sebelumnya ada kejadian kapal Mavi Marmara yang diserang Israel waktu mau membawa bantuan ke Gaza. Beberapa orang relawan harus kehilangan nyawa. Saya sudah memperhitungkan segala sesuatunya, termasuk jika harus kehilangan nyawa. Karenanya, saya sudah izin kepada suami dan anak-anak. Jika terjadi sesuatu pada saya, InsyaALLAH mereka akan merelakannya. Saya pikir jika gugur syahid di sana, semoga bisa merahmati 70 anggota keluarga.


Senin (28/6), pukul 10.55 waktu setempat, kami tiba di perbatasan Rafah, Mesir. Sedikit ada perasaan was was, karena meskipun kami di kawal polisi Mesir, bisa saja ada perubahan sikap yang akhirnya membuat izin kami untuk memasuki Gaza dibatalkan. Sepanjang jalan saya berdo'a, semoga ALLAH memudahkan langkah kami menuju ke sana. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur sekali, walaupun hanya diberi kesempatan delapan jam di sana, tapi itu sangat berarti. Jantung saya berdebar cepat dibarengi rasa syukur. Akhirnya, kaki ini bisa menginjak di bumi jihad setelah beberapa kali mencoba masuk ke Gaza, beberapa waktu yang lalu.


Setelah melewati Gerbang Rafah, kami melewati zona kosong beberapa kilometer hingga sampai di pintu pos Gaza. Di sana kami dijemput oleh tentara dan anggota parlemen Hamas. Yang membuat saya terharu adalah cara penyambutan mereka, warga Palestina, kepada kami. Bayangkan, negeri mereka porak poranda akibat kekejian Israel, tapi mereka masih menjalankan protokoler sebagaimana menyambut tamu. Mereka menyiapkan untaian bunga-bunga segar dan harum yang diambil dari perkebunan mereka untuk dikalungkan ke leher kami. Di antara untaian bunga itu, terselip ucapan sambutan dari mereka, "Welcome to Gaza". Setelah itu, mereka pun menyematkan selendang perjuangan yang dirajut oleh perempuan Palestina dengan kualitas bahan yang paling baik.


Saat ini 84% wilayah Palestina sudah dikuasai Yahudi, sisanya hanya 16% yang terdiri dari Gaza dan Tepi Barat. Hanya dua daerah itu yang didiami Muslim, sisanya sudah di bawah kekuasaan Israel. Saat tiba di sana, yang pertama kali saya lihat adalah kondisi bangunan. Banyak sekali bangunan yang hancur, sehingga banyak warga yang harus tinggal di tenda-tenda.


Usai acara penyambutan, mereka mengajak kami untuk berbincang di gedung Parlemen Palestina untuk mengadakan konferensi pers bersama wartawan setempat dan wartawan Indonesia yang ikut rombongan. Tapi, kami tidak melihat gedung bertingkat layaknya sebuah gedung parlemen atau anggota dewan. Gedung mereka hancur dibom Israel, dan kami diterima di depan reruntuhan gedung yang hancur. Kami berbincang-bincang di dalam tenda dengan kursi-kursi plastik. Mirip sekali dengan rapat RT atau rapat RW di Indonesia.


Seorang pendamping kami, Mushir Al Misri, mengatakan bahwa Gaza hanya diberi jatah listrik oleh Israel empat jam dalam sehari, tapi ada juga di daerah lain di wilayah Gaza yang dapat pasokan listrik delapan jam sehari. Ketika Mushir mengatakan hal itu, tiba-tiba lampu langsung padam. Pas sekali dengan yang dia katakan. Akhirnya konferensi pers berjalan dengan keadaan tenda yang gelap gulita, hanya diterangi lampu dari kamera wartawan sebelum akhirnya lampu menyala kembali.


Konferensi pers dibuka pertama kali oleh Ahmad Bahar, Wakil Ketua Parlemen, menggantikan ketuanya, Abdul Azis, yang tengah dipenjara oleh pihak Israel. Setelah itu sambutan dilanjutkan oleh Ismail Haniya. Perdana Menteri Palestina dari Hamas ini, dalam sambutannya, ia mengucapkan terima kasih atas bantuan untuk membangun rumah sakit yang diberi nama Ar Royan di Gaza Utara. Setelah itu giliran Ketua DPR RI, Marzuki Alie yang menyampaikan sambutannya, dan diterjemahkan oleh DR Hidayat Nur Wahid ke bahasa Arab.


Di Palestina, tanahnya memang sangat subur. Dulu mereka pernah menjadi pengekspor jeruk, bunga-bunga segar, dan beberapa hasil bumi yang mereka tanam dari kebun sendiri. Mereka sendiri saat ini sedang giat-giatnya menanam pohon zaitun di atas kebun-kebun yang dihancurkan oleh Israel. Ismail Haniya mengatakan, "Kami saat ini mulai menanam. Bisa jadi bukan kami yang akan memetik hasilnya, tapi anak-anak kami." Bagi saya, itu adalah sebuah pernyataan yang menunjukkan optimisme bahwa mereka akan bangkit dan tidak pernah putus harapan. Meskipun gedung-gedung pemerintahan mereka hancur, tapi subhanallah, pemerintahan mereka tetap berjalan.


Di antara anggota parlemen perempuan dari Hamas, terdapat Jamila Al Shanti, janda Asy Syahid Abdul Aziz Ar Rantisi. Ada enam orang perempuan yang ada di pemerintahan Hamas, dua di antaranya berada di dalam penjara. Banyak dari keluarga Jamila Al Shanti yang syahid, termasuk anak-anaknya. Saya memeluk erat-erat Jamila Al Shanti. Saya katakan padanya, bahwa saya mendapat amanah untuk menyerahkan bantuan dari para muslimah Indonesia dan bantuan dari beberapa perusahaan. Karena sebelumnya di Mesir ada kesepakatan untuk tidak membawa bantuan, jadi saya memberikannya dengan diam-diam. Alhamdulillah dia mau menerimanya. Kalau saja tidak saya katakan ini amanah, mungkin dia tidak mau menerima. Bahkan, dia menitipkan surat untuk para Muslimah Indonesia dari Muslimah Palestina.


Setelah setengah jam berada di dalam tenda untuk mengadakan konferensi pers, kami diajak keluar untuk menyaksikan peletakan batu pertama peresmian pembangunan rumah sakit di tanah wakaf dengan luas satu setengah hektar. Ada kejadian mengharukan di sini. Saya melihat anak-anak berbaris rapi memainkan marching band dalam acara itu. Mereka menggunakan baju seragam dan memainkan alat musik dengan sangat semangat. Ketika mereka berparade itu, sungguh tidak menyangka, bahwa mereka adalah anak-anak yang setiap hari harus bertaruh nyawa karena kekejaman Israel. Wajah mereka yang tampak berseri-seri membuat hati saya begitu tenang.


Di antara rombongan kami, ada jendral dan kolonel yang pernah melihat kondisi di Irak. Menurut mereka, di Irak, paling tidak dalam dua tahun mereka sudah banyak yang meninggal karena kekurangan makanan atau ketidak tersediaan air. Tapi subhanallah, di Palestina, meskipun sudah menderita selama puluhan tahun, mereka masih bisa bertahan. Kalau mereka mau, mereka bisa pergi dari negeri Palestina. Tapi mereka tidak mau. Saya sampai menangis mendengar orasi seorang pemuda, dia berkata, "Kami sama dengan kalian. Hak kalian terhadap kami merupakan kewajiban kami. Salah satu hak kalian terhadap kami adalah, bahwa kami wajib bertahan di sini untuk terus berjuang. Kalau kami tidak berjuang berarti kami tidak menunaikan kewajiban kami yang merupakan hak kalian. Dan itu berarti, kami lemah. Kami harus kuat menghadapi risiko apa pun untuk memenuhi kewajiban kami ini."


Saya sungguh kagum dengan pernyataan pemuda itu, sekaligus merasa terpukul. Mereka tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga memikirkan hak orang lain. Hak kita, sebagai saudara seiman. Saya merekamnya dengan air mata mengalir. Saya merasa kalau semua umat Islam memiliki sikap seperti ini, kondisi dunia akan berubah. Sekarang umat Islam banyak yang tidak menyadari hak sesama muslim.


Mereka, bangsa Palestina tidak mau terlihat sebagai bangsa yang meminta-minta. Mereka bangsa yang iffah, sekaligus bangsa yang memberi. Sampai-sampai, Menteri Dalam Negerinya berkata "Nahnu sya'bul banna' laisa sya'bul bakka" (Kami ini bangsa pembangun bukan bangsa perengek). Saya tambahkan lagi untuk mereka, yakni sya'bul atha', karena mereka bangsa yang sangat gemar memberi. Ketika kami diantar protokoler mereka naik bus, mereka tidak mau diberikan tips. Padahal kalau dipikir, mereka juga butuh. Tapi mereka tidak mau.


Saat adzan Dzuhur berkumandang, kami berbondong-bondong mencari air wudhu. Tapi mereka langsung saja sholat, karena mereka adalah orang yang senantiasa menjaga wudhu. Mereka bilang, mereka siap gugur syahid kapan saja. Ketika musuh ALLAH menembak mereka, maka mereka akan meninggal dalam keadaan suci karena menjaga wudhunya. Saya melihat orang-orang di luar, sholat di depan toko-toko mereka. Ada yang sholat jamaah bertiga atau berempat. Masjid mereka banyak yang dibombardir dan belum mampu lagi membangunnya. Yang terpenting bagi mereka adalah sholat jamah.


Kami juga melewati rumah Ismail Haniya. Tidak ada yang menyangka bahwa Perdana Menteri ini tinggal di sebuah gang sempit. Saya dengar ada camp untuk menghapal Al Qur'an. Dari sekitar 10 ribu anak, ada sekitar 2500 anak yang jadi hafidz Al Qur'an dalam waktu dua bulan. Pada bulan April lalu, jumlah penghafal konon telah bertambah menjadi 15 ribu anak. Mereka, kata menteri Dalam Negeri, tengah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan. Mulai dari tingkat Nasional, lini terdepan pemerintahan, pejabat daerah, hingga pejabat kampung, semuanya hapal Al Qur'an.


Tidak ada guratan kesedihan di wajah anak-anak Palestina. Mereka selalu tampak ceria. Bahkan, ada salah satu anak yang kehilangan salah satu tangannya tidak mau dikasihani. Dia bilang, "Saya hanya kehilangan satu tangan. Sedang paman saya, dia syahid".


Sayang, saya tidak bisa mengunjungi dan sholat di masjid Al Aqsha, meskipun jaraknya dari Gaza hanya sekitar 100 km. Karena sekitar 1,5 juta penduduk Gaza terkurung, tanpa bantuan makanan dan obat-obatan. Banyak bahan makanan yang mereka buat sendiri. Inilah penjara terbesar di dunia. Jika ada penduduk Gaza yang pergi ke Al Aqsha, maka mereka akan dipenjara selama 100 tahun oleh Israel. Bahkan Mushir Al Misri mengatakan, terakhir dia pergi ke Al Aqsha ketika dia berusia 10 tahun.


Seperti disampaikan oleh Ustadzah Yoyoh Yusroh kepada Tarbawi.....

Rabu, 02 Juni 2010

Israel Mengebom Gaza...

PESAWAT tempur milik Israel kembali melancarkan serangan ke perbatasan Gaza, Selasa malam pekan lalu. Dalam serangan yang berlangsung satu malam itu, setidaknya 15 warga Palestina mengalami luka-luka.

Selain melakukan serangan di Beit Hanoun, seorang sumber warga Palestina menyebutkan, Israel melakukan serangan ke-2 di Bandara Internasional Rafah.


Sumber: Majalah Tempo edisi 31 Mei - 6 Juni 2010

Jumat, 28 Agustus 2009

Resensi Film: Munich...


Judul: Munich
Pemain: Eric Bana, Geoffrey Rush, Daniel Craig, Mathieu Kassovitz, Ciaran Hinds.
Sutradara: Steven Spielberg

Paradigma Barat tentang Palestina

Sejumlah pemuda mengendap-endap dan memanjat gerbang perkampungan Atlet yang berlaga dalam Olimpiade Munich, Jerman 1972. Dengan cepat dan cekatan, mereka berlari sambil terus mengendap memasuki lorong dan ruangan yang ditempati para atlet Israel. Dalam waktu yang singkat, setelah melewati pergumulan yang tidak imbang, para pemuda bersenjata yang ternyata anggota milisi Palestina itu berhasil membunuh 11 atlet Israel. Darah muncrat di mana-mana.

Peristiwa tersebut sangat mengagetkan Perdana Menteri Golda Meir. Perempuan yang dijuluki 'The Iron Lady from Israeli' ini benar-benar gusar. Dengan cepat, Golda Meir menggelar rapat terbatas dan memutuskan membentuk sebuah Tim Komando MOSSAD untuk mengejar gerilyawan Palestina tersebut dan membunuh siapa pun yang bertanggung jawab.

Di Israel, tiap pria dan wanita dewasa adalah sipil sekaligus tentara. Demikian pula dengan Avner. Pemuda yang tengah menanti kelahiran anak pertamanya ini segera dipanggil menghadap Golda Meir dan diberi tugas khusus bersama sejumlah anggota MOSSAD lainnya. Tugasnya hanya satu: memburu pembunuh 11 atlet Israel di Munich hingga ke ujung dunia. Bagi Meir, ini merupakan satu perhitungan yang adil.

Dengan alasan membela tanah air, Avner (Eric Bana) menerima tugas dianggapnya mulia. Walau secara manusiawi berat, dia pun meninggalkan istrinya yang tengah mengandung dan pindah ke Eropa. Entah sampai kapan. Di Eropa, Avner bertemu dengan rekan satu timnya. Dengan bantuan informan, Avner memulai aksinya. Sejumlah aktivis Palestina yang menurutnya bertanggung jawab dibunuhnya. Korban pertamanya tewas akibat peluru. Namun nyawa korban-korban berikutnya melayang akibat ledakan bom.

Dalam film ini Steven Spielberg terlihat berupaya untuk bersikap netral. Dia memasang Avner dan kelompok MOSSAD-nya sebagai manusia-manusia yang gigih membela tanah air. Sedangkan pejuang-pejuang Palestina pun digambarkan sebagai orang-orang yang menuntut balas kepada Israel karena bangsa Yahudi ini telah merebut tanah air Palestina menjadi negaranya.


Paradigma Barat

Cara pandang khas Barat terhadap konflik yang terjadi antara rakyat Palestina dengan Zionis-Israel sungguh terekam dengan baik dalam film ini. Barat, lewat Spielberg, memandang bahwa kaum Yahudi berhak atas Tanah Palestina. Dan sebaliknya, orang-orang Palestina pun berhak atas tanahnya sendiri. Kedua bangsa yang sebenarnya masih satu keturunan dari Ibrahim ini seharusnya bisa hidup berdampingan di Palestina. Inilah cara pandang Barat.

Padahal, jika kita mau kritis sedikit, bangsa Yahudi sedikit pun tidak memiliki hak atas Tanah Palestina. Bangsa Yahudi bisa menduduki Tanah Palestina karena difasilitasi Inggris dan Amerika. Orang-orang Yahudi ini lewat organisasi teroris bersenjata seperti Haganah, Stern, dan Irgun menyerang dan membantai orang-orang Palestina, mengusir mereka dari tanahnya sendiri, dan mengklaim Tanah Palestina sebagai 'The Promise Land', tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka. "Negara Israel harus dihapus dari peta Bumi!" demikian Ahmadinejad berkata. Dan seharusnya para pemimpin Arab pun bisa berani seperti itu jika tidak mau dikatakan banci. Jadilah laki-laki walau hanya sehari!.

Sumber: Eramuslim Digest


Sabtu, 22 Agustus 2009

Kingdom of Heaven


Walau film ini mengisahkan Balian of Ibelin (Orlando Bloom), salah seorang Ksatria Perang Salib, tapi sutradara Sir Ridley Scott menggambarkan perang salib secara netral. Bahkan inilah film barat satu-satunya yang berbicara tentang Perang Salib tanpa pretensi subyektif, semata-mata didasarkan atas sejarah itu sendiri.
Dalam film kolosal yang melibatkan 1500 figuran orang2 Maroko sendiri, sosok Sholahuddin Al Ayyubi (Ghassan Massoud) digambarkan sebagai seorang panglima perang yang adil, kokoh pendirian, penuh izzah, dan mulia. Sholahuddin dan King Baldwin sebagai King Jerussalem ternyata memiliki mimpi yang sama yaitu menjadikan Jerussalem sebagai kota milik tiga umat beragama bersama-sama yakni Islam, Nasrani, dan Yahudi. Upaya pertolongan Sholahuddin terhadap King Baldwin yang sakit lepra pun ditampilkan.
Di sisi lain, Scott Ridley berhasil menggambarkan dua tokoh Ksatria Templar yakni Reynald de Catthilon dan Guy de Lusignan yang kasar, berangasan, dan doyan perang. Peristiwa perang Salib pertama hingga futuhnya Yerussalem secara utuh ditampilkan dengan sangat menawan dan mengagumkan. Bagi yang ingin mengkaji peran Ksatria Templar (Knights Templar) dalam perang salib pertama dan juga sosok seorang Sholahuddin Al Ayyubi, ada baiknya menjadikan film ini sebagai referensi. sumber: EraMuslim Digest

Resensi Buku: PALESTINEemang gue pikirin!


written by: Shafwan Al Bana

Apa yg nongol d otak qt kalo denger kata Palestina? Sedih,marah,penasaran...atau malah ga peduli?Buku ini bakal ngebawa qt b’petualang k sana.Dibuat dari bahan2 sepesiyal yang ilmiah,fragmen sejarah,dalil ayat & hadits,plus ”kejutan2” yg bakal bikin kamu penasaran.Cobain deh! Terbukti dan teruji!
Selain itu,sengaja buku ini dibuat ada 2 covernya, Side A berisi Chapter 1 – 3, n side B berisi chapter 4 mpe 7.Tokoh (gambar) d cover A n B emang orangnya sama tapi dg identitas beda,maksudnya gini,entah siapa aja walopun dulunya gaul and funky,biz baca buku ini jd beda,,gaulnya tetep(asal yang syar’i) tapi jd org yg tahu jg peduli akan dunia Islam.Intinya jd ”Gaul and ngeFight ala Islam”. Komposisi:tiap buku ini mengandung 300 halaman HVS & 2 cover dicetak sparasi full colour kertas ivory, Efek Samping: Gelisah karena melihat penderitaan Muslim Palestina, Semangat untuk memperjuangkan kebenaran Islam, Peduli thd masalah2 dunia Islam. Dosis dan cara pemakaian: Buku inidibaca 3x sehari atawa t’serah kapan aja yg penting dibaca mpe tuntas,kalo selesei baca sekali,bisa dibaca b’ulang2 or dikasi k org laen bwt dibaca. Kausiyen! Info kesehatan: Gaplek (gagap palekstina...^_^) menyerang siapa saja! Indikator Gaplek: cuek sama Palestina, males ikut membela, semangat tapi nggak ngerti masalah sebenarnya... Jika gejala2 spt itu nongol d diri kita,segera baca buku ini! Bwt yg blm t’infeksi,buku ini penting bwt m’cegah penyakit menular itu.Ingat, penyakit tjd bukan karna niat jahat dari pelakunya saja,ia ada karna ada kesempatan.. WASPADALAH-WASPADALAH! Bila Ada keluhan berlanjut,hubungi penulis! AWAS BUKU KERAS! Jangan gunakan buat nimpuk org.

Selasa, 09 Juni 2009

Kitab Al-I'tibar


Perkembangan satra dalam peradaban Islam memegang peranan penting dari masa ke masa. Bahkan sebelum Islam datang, bangsa Arab Jahiliyah telah terkenal sebagai bangsa penyair. Namun sastra di masa pra-Islam tersebut jumlahnya cukup terbatas, khususnya pada naskah-naskah yang tertulis.

Kesusastraan Arab kian berkembang pasca Nabi Muhammad wafat berabad kemudian, yakni pada masa daulah Abbasiyyah, dimana kejayaan Islam mencapai puncaknya. Hal ini bukan saja ditunjukkan dari banyaknya jumlah karya satra yg mampu dihasilkan, namun juga dibuktikan dari makin beragamnya genre kesusastraan Arab yg diusung oleh para sastrawan Islam. Salah satunya adalah biografi dan memoar. Selama ini, masyarakat lebih lazim mengenal sejarah dan kisah hidup Nabi Muhammad sebagai karya satra Arab yang berkaitan dengan biografi. Padahal, masih banyak biografi lainnya yang ditulis para sastrawan tentang banyak tokoh yang pernah sangat mempengaruhi peradaban Islam. Salah satunya Kitab Al-I'tibar karya Usamah Ibn Munqidh yang disempurnakan oleh Al-Safadi.

Kitab Al-I'tibar menuturkan jejak sejarah seorang Usamah Ibn Munqidh, seorang ksatria perang Salib di abad ke-12 yang sukses menjadi saudagar, kaum pelajar dan bangsawan yang terhormat di masa tuanya. Di dalamnya dijelaskan bahwa Usamah Ibn Munqidh merupakan saksi sejarah suatu zaman. Dilahirkan tepat di saat genderang Perang Salib akan dimulai, tahun 1095, tahun dimana Paus memberikan dukungan pada persiapan pemberangkatanangkatan perang pertama kaum Nasrani, juga menjadi saksi detik-detik keruntuhan Dinasti Fathimiyah di Mesir. Ia adalah teman Sholahuddin Al Ayyubi (Sultan Saladin), Sultan Mesir yang juga terkenal sebagai Panglima Perang Salib yang berasal dari Suku Kurdistan di perbatasan Irak-Iran-Turki.

Semasa hidupnya, ia mengalami negerinya terjajah di bawah pemerintahan Raja Frank. Ia menyaksikan sendiri bagaimana tentara salib merebut tanah kelahirannya, sekaligus saksi perebutan kembali Edessa pada tahun 1144 dan Yerussalem tahun 1187 oleh sahabatnya, Sultan Saladin. Di masa-masa 'damai' dimana Tentara Salib hidup berdampingan dg kaum Muslim, bahkan menetap sbg penjajah, Usamah hadir sbg 'jembatan budaya' antara kalangan ini. Di masa tuanya, Usamah menuliskan kiprahnya sebagai ksatria perang yg mjd saksi hidup peperangan yg dilaluinya. Memoarnya ini ia beri judul "Kitab Al-I'tibar", yg berarti sebuah renungan.

Kitab Al-I'tibar tdk hanya memuat fase-fase peperangan terpanjang dlm sejarah Islam, Perang Salib. Di dalamnya juga memaparkan cara-cara interaksi antara kaum Muslim dan Nasrani di semua sektor kehidupan. Usamah mengamati dg detail bagaimana masyarakat Islam berpolitik, mengembangkan budayanya, hingga interaksi budaya lainnya yg kemudian ia bandingkan dengan lifestyle yg dibawa umat nasrani. Tak heran bila kitab Al-I'tibar disebut-sebut sebagai karya sastra Arab terlengkap yang membahas tentang sosio-kultur antara Muslim dg Nasrani, dan banyak digunakan sebagai referensi utk m'pelajari kebudayaan Arab, dlm hal ini nilai2 Islam. Yang menarik, Kitab Al-I'tibar juga memaparkan tentang pengobatan Islam yg jauh lebih maju dibandingkan dg pengobatan barat yg dianggap "kejam" dan menyakitkan.

Sebenarnya, Kitab Al-I'tibar terkenal bukan karena bahasanya yg penuh dg kata2 yg puitis, spt halnya prosa2 Arab pada umumnya. Sebuah memoar yg sama mengisahkan Timur Tengah di abad yg sama juga pernah ditulis oleh Ibnu Jubair, Gubernur Valencia di Spanyol, berjudul Ar-Rihlah (Safari). Tapi para ahli sastra sepakat bahwa kitab Al-I'tibar ditulis dengan penggambaran yg hidup dlm hal detail, baik dlm menggambarkan kondisi dan gerak-gerik tokoh yg hadir di dalamnya.

Rupa-rupanya, keistimewaan Kitab Al-I'tibar inilah yg menarik perhatian sejarawan barat yg concern meneliti masalah di Timur Tengah, khususnya Islam, bernama Philip K Hitti yg kemudian menerjemahkan Kitab Al-I'tibar ini shg karya ini jg dpt dinikmati oleh masyarakat Eropa dan dunia.

Taken From: Annida No.10/XVIII Juni 2009

Kamis, 15 Januari 2009

Lembaga-lembaga Medis

Ada banyak lembaga medis yang punya kepedulian sama masalah Palestina. Lembaga-lembaga ini beberapa kali terjun langsung ke medan Palestina. Di sana, mereka memberikan penanganan medis darurat yang bakalan banyak berarti buat saudara2 kita di sana. Kiprah mereka ini penting bgt mengingat minimnya tenaga medis dan kondisi lingkungan yang sangat menyedihkan di sana. Selain itu, buat ngedukung tugas mereka di sana, mereka juga ngadain penggalangan dana. Nah, paling nggak, ada dua organisasi medis yg menonjol, yaitu MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia). Kalo punya minat di bidang ini, coba siapin diri buat terjun langsung bergabung suatu saat nanti.

Center for Middle East Studies (COMES)

Lembaga ini bener2 salah satu lembaga yang paling concern sama masalah-masalah Palestina. Beragam hasil usahanya, mulai dari analisa sampai buku-buku terbitannya bisa jadi rujukan yang oke punya buat kita. Ngomong2, tujuan COMES atau pusat studi Timur Tengah adalah ningkatin pemahaman plus kepedulian masyarakat Indonesia sama masalah-masalah Timur Tengah, khususnya Palestina, dlm bingkai kemanusiaan dan kebudayaan. COMES punya visi untuk jadi rujukan utama masyarakat Indonesia untuk informasi dan segala hal yang terkait dengan Timur Tengah, khususnya Palestina. Kalo kita butuh data, berita, atow macem-macem lainnya, kita bisa cari di COMES. Kerennya, mereka juga nyediain berbagai sarana kepustakaan yang terkait dengan Timur Tengah: homepage, buku, majalah, koran, film, foto, video, kaset, pokoknya lengkap deh!

Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA)

Komite ini adalah kumpulan Ormas-ormas dan LSM-LSM Islam plus Dewan Syariah Nasional. Dengan payung MUI, lembaga yang diakui sebagai tempat ngumpulnya para ulama Indonesia, KISPA menjadi salah satu organisasi yang cukup penting dalam penyikapan masalah Palestina. Komite ini ngefokusin perhatiannya pada masalah pengungsi dan korban invasi Israel atas Palestina. KISPA secara intensif ngadain diskusi soal perkembangan terakhir Palestina. Hasil diskusi itu biasanya disimpulin trus dirumusin jadi pernyataan sikap resmi mengenai Palestina atas nama umat Islam Indonesia. Selain diskusi dan pernyataan sikap, KISPA juga sering bgt ngadain penggalangan dana, Tabligh Akbar, aksi, sampai ngirim delegasi ke pertemuan-pertemuan internasional soal Palestina.

Rabu, 10 Desember 2008

HAMAS

Awal keberadaan HAMAS di Palestina lebih bertumpu pada kegiatan2 sosial, kesehatan & pendidikan. Syeikh Ahmad Yasin sendiri mendirikan The Islamic Charitable League (Yayasan Penyantun Islam) tahun 1973 dengan tujuan utama membangkitkan kesadaran Islam masyarakat Palestina.

Tanggal 7 Januari 1980, lebih kurang 500 orang HAMAS melakukan pawai dari sebuah masjid di pusat kota Ghaza dan menyerang warung penjual minuman keras, membakar bioskop dan restoran yang menyediakan minuman beralkohol. Awalnya HAMAS ditentang masyarakat Palestina sendiri. Ketika Al Aqsho dibakar yahudi tahun 1982, rakyat Palestina marah dan mulai banyak yang mendukung perjuangan HAMAS, sementara pada saat yang sama kesadaran berislam terus ditumbuhkan.

Di bagian lain HAMAS juga memasuki oeganisasi profesi seperti Ikatan Dokter Arab, Organisasi Pekerja, Ikatan Wanita Muslimah Arab. Dan mahasiswa-mahasiswa pendukung HAMAS menguasai Dewan Mahasiswa di Islamic University.


HAMAS eksis karena ditopang oleh basis sosial dan basis doktrinalnya. Basis sosial bermakna HAMAS populis di mata rakyat, karena membangun kesadaran berislam rakyat Palestina, membangun sekolah-sekolah, masjid2, perpustakaan, santunan, dll. Namun dari semuanya, masjid memegang peran vital sebagai kekuatan penggerak. Tahun 1967-1987 jumlah masjid di Tepi Barat dari 400 masjid menjadi 750 masjid. Di Jalur Ghaza dari 200 menjadi 600 masjid. Karena itu, meski banyak para pimpinan HAMAS syahid, tetapi HAMAS akan tetap hidup sampai diraihnya kemenangan atau mencapai syahid. ALLAHUAKBAR!!!

HUBUNGAN PALESTINA DENGAN UMAT ISLAM:
1. Adanya ikatan aqidah.
2. Adanya ikatan Ibadah.
3. Adanya ikatan Ukhuwah.
4. Al Quds milik kaum Muslimin yang diwariskan para pendahulu Umat.
5. Terjadinya penjajahan dan pelanggaran HAM yang bertentangan dengan prinsip keadilan yang diajarkan Islam.

Jihad:merupakan asas terbentuknya tatanan umat Islam.
Jihad dilakukan sepanjang masa tidak mengenal waktu dan tempat. Di mana ada kezholiman, maka jihad ditegakkan.

Jihad secara bahasa berarti sungguh-sungguh, taat, berat, sulit.

NB: HAMAS adalah singkatan dari Harokah Muqawwamah al Islamiyah


Maroji:
1. Majalah Ishlah No. 13/Tahun I, Des 1993.
2. Majalah Inthilaq No. 18/Tahun I, 1-15 Des'93
3. Majalah Ishlah No. 8/Th. II, Juni 1994
4. Majalah Inthilaq No. 14/Th. II, 9-22 Sept'94
5. Majalah Sabili No.22/Th. IX, 2 Mei'02
6. Beberapa Sumber Lain

Minggu, 07 Desember 2008

Flash back 4

12. Pada tahun 1968, pecah beberapa kali bentrokan bersenjata melawan Israel di bumi Palestina. Dalam pertempuran di perkampungan Al-Karomah, pertahanan Palestina dibantu pasukan Yordan mampu mengalahkan zionis.

13. 11 Agustus 1969, yahudi membakar masjid Al-Aqsha. Hal ini mendorong negara-negara Arab mengadakan KTT Islam ke-1 bekerja sama dengan kerajaan Maghrib. KTT ini menghasilkan pembentukan Dewan Al-Quds.

14. Maret 1970, Amerika menggencarkan upaya damai melalui menlunya William Roger, tapi gagal setelah meninggalnya Abdun Nasher sebulan setelah menerima usulan AS.

15. 6 OKtober 1973, dalam sebuah pertempuran, tentara Mesir berhasil menyebrangi terusan Suez dan melewati perbatasan yang didirikan Israel di sisi timur Suez. Tentara Zionis
hancur lebur, tapi tiba-tiba Mesir menghentikan perang dan mengadakan perjanjian.

16. November 1974, di hadapan PBB, Yasser Arafat menyatakan kesiapan untuk melangkah ke arah perdamaian dengan Israel, sehingga PLO dianggap sebagai wakil resmi bangsa Palestina.

17. November 1977, Presiden Mesir Anwar Sadat menggegerkan dunia dengan berkunjung ke Israel dan mengadakan perdamaian setelah beberapa kali berunding dengan pemimpin Israel, Manahem Begin.

18. September 1978, Anwar Sadat menandatangani persetujuan Camp David di Washington, yang merupakan awal perdamaian Israel dengan negara-negara Arab.

19. November 1978, dalam KTT Arab di Baghdad, negara-negara Arab sepakat menolak perjanjian Camp David, sehingga Mesir diasingkan secara politik dan ekonomi oleh negara-negara Arab.

20. Juni 1981, Knesset Israel menyatakan resmi mencaplok kota Al Quds.

21. Oktober 1981, Khalid Islambuli dan beberapa kawannya memuntahkan peluru yang menewaskan Anwar Sadat. Khalid Islambuli dihukum mati.

22. 4 Juni 1982, Israel mengagresi Libanon, sebagai basis perlawanan Palestina. Dalam agresi yang terkenal dengan tragedi Sabra Syatilla ini, Israel membantai ribuan muslim sipil. Setelah Israel mengepung Beirut selama 80 hari, pimpinan PLO memutuskan untuk pindah dari Beirut menuju wilayah lain.

23. Pada tanggal 8 Desember 1987, meletusnya intifadhah yang dikoordinir oleh HAMAS, sebagai akibat tewasnya 4 pekerja Arab ditabrak Israel. Sejak inilah masalah Palestina kembali mencuat ke permukaan. Intifadhah memberi angin baru bagi jihad rakyat Palestina.

flashback 3

9. Tahun 1956, Presiden Mesir Gamal Abdul Nasher mengumumkan penguasaannya atas terusan Suez yang mendorong Inggris dan Prancis bersekutu melakukan agresi militer – dibantu Israel – menyerang Mesir, sehingga memunculkan permusuhan segitiga. Agresi ini menghasilkan aneksasi atas Padang Gurun Sinai & sebagian wilayah Ghaza selama beberapa bulan.

10. Akhir tahun 1963, Israel kembali mencari gara-gara dengan mengubah aliran sungai Yordan yang memicu kemarahan Negara-negara Arab. Kemudian diadakan KTT Arab ke-1 tanggal 13 Januari 1963 dan menghasilkan beberapa keputusan, salah satunya membentuk Dewan Pembebasan Palestina (PLO), yang diketuai almarhum Ahmad Syuqairi.

11. Tahun 1967, Israel melakukan agresi militer ke beberapa Negara Arab, sehingga Padang Sinai, dataran tinggi Golan dan Tepi Barat jatuh ke tangan Israel termasuk Al Quds dan sebagian Ghaza. Pihak Arab menderita kerugian besar setelah bertempur 6 hari dengan Israel.

Jumat, 05 Desember 2008

Flash Back 2

6. Inggris turun tangan dan berupaya memaksa pemerintah Palestina agar menerima usulan perdamaian dengan Yahudi dan gencatan senjata. Konferensi mengalami jalan buntu karena yahudi ngotot mendirikan untuk mendirikan negara zionis di atas bumi Palestina.

7. Tahun 1947, Inggris menyatakan tak mampu mengatasi konflik Arab-Israel & menyerahkan sepenuhnya kepada PBB. PBB mengeluarkan instruksi no.181 tentang pembagian tanah Palestina: 56 % untuk yahudi, 44 % untuk Palestina, dan 1 % merupakan wilayah Al-Quds akan berada di bawah kekuasaan PBB. Hal ini merupakan penjajahan yg dilegalkan.

8. 14 Mei 1948, Yahudi memproklamirkan berdirinya negara Israel di Palestina, sehingga Palestina yang dijajah Inggris selama 30 thn diberikan kpd Israel. Kemudian yahudi melakukan migrasi besar-besaran ke Palestina seperti terjadi di perkampungan Dir Yasin tanggal 9 April 1948.

Selasa, 25 November 2008

Flash Back

  1. Abad 19, Yahudi Eropa mendirikan gerakan zionisme modern yg b'tujuan mendirikan negara Yahudi di Palestina. Sebelumnya mereka gagal membujuk Sulthan Abdul Hamid agar menjual Palestina yang saat itu merupakan bagian dari kekhalifahan Turki Utsmani.
  2. Setelah ambruknya khilafah Utsmaniyah, zionis memusatkan upaya mereka utk m'perbanyak populasi dan propaganda pembentukan negara yahudi. Langkah ini didukung oleh negara2 Barat, khususnya Inggris melalui Deklarasi Balfour tahun 1917.
  3. Inggris kemudian menjalin perjanjian rahasia dengan Prancis untuk berbagi kekuasaan atas Palestina. Palestina Timur, Yordania & Iraq dikuasai Inggris. Sedang Suriah dan Libanon diserahkan kepada Prancis. Untuk merealisir perjanjian Balfour, Inggris mendukung pelaksanaan imigrasi Yahudi ke Palestina. Sejak saat itu, pertambahan imigran Yahudi di Palestina meningkat pesat.
  4. Tahun 1929, orang2 Palestina melakukan unjuk rasa besar-besaran sbg respon kebijaksanaan Inggris terhadap imigrasi Yahudi. Saat itu pemberontakan Al Buraq pun pecah di sebagian besar wilayah Palestina.
  5. Tahun 1935 muncul pergolakan yang dipimpin oleh Syaikh 'Izzudin Abdul Qossam. Ini dianggap sebagai awal pergolakan militer untuk mempertahankan Palestina.

Rabu, 19 November 2008

Do you really CaRe??

tunjukkan kepedulian nyata pada palestinakita!!!

Allahuakbar!!!